Jumat, 27 September 2024

Antara Personal Branding dan Validasi : Apakah Kita Terlalu Berlebihan di Media Sosial?

 

                    Sumber Gambar :idntimes.com

         Ini adalah sudut pandang pribadi yang ingin aku bagikan, dan aku sangat memahami jika teman-teman memiliki pandangan yang berbeda—itu adalah hak masing-masing. Belakangan ini, aku memperhatikan sebuah fenomena yang semakin nyata di media sosial, di mana banyak orang menggunakan platform tersebut sebagai tempat mencari validasi yang berlebihan, sering kali dengan alasan personal branding. Pada awalnya, aku sering merasa kagum dengan pencapaian seseorang yang dibagikan di media sosial. Melihat orang lain berhasil mencapai sesuatu yang luar biasa memang bisa memotivasi dan menginspirasi kita. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasa minatku berkurang karena unggahan-unggahan tersebut sering kali disertai dengan pencarian validasi yang terasa berlebihan, seakan-akan harus sekali diakui oleh publik bahwa dia telah memenangkan penghargaan ini, juara itu, atau prestasi-prestasi lainnya.

Fenomena ini membuat aku bertanya-tanya: apakah benar personal branding harus selalu disertai dengan pameran pencapaian yang tiada henti? Terkadang, apa yang awalnya terasa inspiratif, justru berubah menjadi sesuatu yang seolah-olah menuntut pengakuan. Akhirnya, aku merasa kehilangan minat karena esensi dari keberhasilan itu sendiri menjadi teralihkan oleh narasi yang terlalu fokus pada validasi eksternal.

Sebagai manusia yang sedang sama-sama tumbuh, belajar, dan berkembang, kita memang dituntut untuk saling mengapresiasi satu sama lain, bahkan untuk pencapaian sekecil apapun. Apresiasi adalah salah satu bentuk penghargaan dan dukungan yang sangat berharga bagi siapapun. Kita juga perlu menghargai cara orang lain mengekspresikan kebahagiaan dan kebanggaannya atas pencapaian pribadi mereka. Namun, fenomena saat ini menimbulkan pertanyaan yang mendalam bagi diriku sendiri: apakah ada batasan antara berbagi pencapaian sebagai bentuk syukur dan mencari validasi berlebihan yang justru membuat orang lain merasa jengah?

Di balik semua itu, aku sadar bahwa setiap orang punya alasan masing-masing untuk membagikan pencapaian mereka. Bagi sebagian, mungkin itu adalah bentuk rasa syukur, pengingat diri sendiri, atau bahkan motivasi bagi orang lain. Tapi, tetap penting untuk diingat bahwa tidak semua orang akan merasakan hal yang sama terhadap cara kita mengekspresikan diri.

Sebagai bagian dari komunitas yang sedang sama-sama berjuang dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, apakah teman-teman juga merasakan hal yang sama? Apakah kalian merasa relate dengan fenomena ini, atau mungkin punya pandangan berbeda? Yuk, coba share pemikiran kalian di kolom komentar. Bagaimana cara kalian melihat dan menyikapi fenomena ini? Apakah personal branding dan validasi di media sosial membawa pengaruh positif atau sebaliknya? Mari kita diskusikan bersama di kolom komentar!

2 komentar:

  1. ada pengakuan atau tidak, bintang tetap dengan sinarnya 🌠 semangat zuuunn

    BalasHapus
  2. Wah bener bgtt, tpi manusia tidak bisa di setara kan dg bintang wkwk😅😅 tpi makna kiasan itu mendalam, hehe

    BalasHapus

Menyambut Hari Kesaktian Pancasila: Menggali Potensi Ekonomi Pancasila sebagai Cermin Identitas Bangsa

Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk mengingat kembali pentingnya dasar negara dalam k...